jaringan yang disembunyikan

[pesawat]........[Milter].......[ekonomi]......[psikologi].......[nutrisi]
[kedokteran]........[Resepmasakan].......[politik].......[sejarah]
[teknik].......[sains].......[Teknologi]......[pertanian].......[Perikanan]
[kelautan].......[tambang].......[job].......[Kesehatan]

...................................................................................................................

(HOME)
Showing posts with label pesawat. Show all posts
Showing posts with label pesawat. Show all posts

02 January, 2009

Bagaimana membuat pesawat terbang dengan tenaga matahari yang di kinetikkan

saya berfikir apakah ada pesawat yang bisa terbang tanpa menggunakan tenaga bahan bakar bumi, saya sangat kawatir bumi akan kempes karena isi bumi di kuras dan diambil isinya, lalu bagai mana caranya membuat pesawat terbang dengan menggunakan tenaga matahari yang di kinetikkan

29 November, 2008

merakit aeromodeling

EDISI TAHUN 2008

AYO KITA BERKREASI YUK MERAKIT SENDIRI PESAWAT MODEL SELAMA WEEK END 2008

Mulai bulan Juni 2008 ini, Bandung Aeromodeling menyediakan berbagai kit pesawat Model Edukasi 2008 yaitu mengajak para peminat aeromodeling untuk merakit sendiri pesawat model untuk edukasi selama liburan. Untuk itulah maka Bandung Aeromodeling menyediakan berbagai kit pesawat elektric dan suku cadangnya termasuk motor listrik, baterai, Speed Control, R/C dan R/C Simulator yang ekonomis. Info selengkapnya dapat disimak di Program Extravaganza 2008.

Pesawat Model Cessna 400

R/C Sport Trainer Elektrik

Dari usulan beberapa rekan aeromodeler yang gemar merakit pesawat model elektrik, Bandung Aeromodeling telah menyiapkan pesawat model Cessna 400 Elektrik yang secara Ekonomis terjangkau harganya dan secara teknis telah dirancang agar karakteristik terbangnya stabil dan mantap sehingga mudah diterbangkan oleh para aeromodeler yang jam terbangnya masih rendah atau juga para pemula.

Pesawat Cessna 400 Elektrik tersebut saat ini disediakan dalam bentuk kit, ARC dan ARF. Strukturnya sebagian besar terbuat dari kayu balsa dan sedikit fiberglass. Dimensinya secara umum adalah bentang sayap 140 Cm, panjang badan secara keseluruhan 120 Cm dengan luas sayap adalah 30 dm^2.

Sayapnya tidak dilengkapi aileron menggunakan airfoil berketebalan 13% yang menghasilkan karakteristik terbang yang cocok sebagai pesawat latih/trainer .

Pesawat Model Cessna 400 elektrik ini dapat dirakit sendiri dari kit dengan Bodi dari kayu balsa dan cowl dari Fiberglass.

Ready Stock Panthera 46 Sport Aerobatic ARF Rp.850.000,- Paket Kombo RTF dng Engine TT Pro46+ Radio 4 EX Rp.3.750.000,

Untuk membantu para aeromodeler yang ingin memiliki pesawat model Cessna 400 elektrik ini namun tidak punya waktu yang cukup untuk merakitnya, maka Bandung Aeromodeling menyediakan Pesawat Model Cessna 400 Elektrik ini dalam kondisi ARC dan ARF.

.

Pesawat model ARF menggunakan covering Indocote untuk melapisi sayap dan ekornya. Sedangkan cowl pada badannya dibuat dari fiberglass dengan dilapisi gelcoat yang tidak luntur .

Pesawat ini dilengkapi dengan tangkai roda pendarat dari pelat dural 3 mm dan roda pendaratnya dari karet busa berdiameter 3".

Pesawat Model ini mempunyai berat siap terbang 700 gram dan dapat ditenagai dengan motor Speed 400 (RS380) dengan baterai 6 - 7.2 V atau sejenisnya hingga cocok menggunakan propeller berukuran 7"x4" hingga 7"x5".

Pesawat Cessna 400 Elektrik ini disediakan di Bandung Aeromodeling dalam bentuk kit seharga Rp.300.000,- dalam bentuk ARC seharga Rp. 350.000 serta dalam bentuk ARF seharga Rp. 450.000 dengan dilengkapi dengan motor, covering material dan roda pendarat, push rod, engsel, dan sebagainya

Paket kombo lengkap dengan motor Speed 400 dan Radio Control Skyartec 4 Ch FM, 3 mikro servo, Speed Control, dan baterai pack disediakan pula dengan harga menarik.

Paket Kombo Kit harga Rp.850.000,- Paket Kombo ARC harga Rp.950.000,- dan Paket Kombo ARF Rp.1.050.000,-

Tentunya harga tersebut di atas belum termasuk ongkos kirim ke alamat pemesan. Silahkan konfirmasikan ongkos kirim ke kota anda. Hubungi Bandung Aeromodeling Telp. (022)6013999, facsimile (022)6015941 atau email ke aerobdg@yahoo.com.

Ready Stock Radio Control Skyartec 4 Ch FM Rp.650.000,- dilengkapi dengan 6 Ch Micro Rx, 3 micro servo dan R/C Simulator,-

12 November, 2008

Lapan Kembali Rancang Pesawat


JAKARTA, KAMIS - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau Lapan merintis pembentukan Pusat Teknologi Penerbangan dan akan kembali merancang pesawat terbang. Hal ini merupakan langkah Lapan untuk kembali pada kompetensinya melaksanakan riset penerbangan yang vakum selama 26 tahun terakhir.

Dijelaskan Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun, Rabu (15/10), berdasarkan keputusan presiden tahun 1963, lembaga riset ini dibentuk tidak hanya untuk melaksanakan riset di bidang antariksa, antara lain, mengembangkan roket dan satelit, tetapi juga menangani riset yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan, termasuk pembuatan desain dan model pesawat terbang.

Dengan tugas dan tanggung jawab di bidang teknologi penerbangan, Lapan berhasil membangun terowongan angin untuk pesawat sub-sonik dan membuat XT-400, sebuah prototipe pesawat terbang berukuran lebih kecil dari CN 212, tutur Kisman Subandi, salah satu perintis pembangunan Lapan, yang telah memasuki masa purnabakti.

Pesawat CN 212 merupakan karya desain dan rancang bangun Cassa Spanyol bekerja sama dengan Industri Pesawat Terbang Nurtanio (kini PT Dirgantara Indonesia). Adapun prototipe pesawat XT-400 dibuat sepenuhnya oleh peneliti dari Lapan, beberapa tahun sebelum pesawat CN 212. Namun, akibat kebijakan pemerintah, lanjutnya, prototipe pesawat buatan Lapan itu tidak dikembangkan lebih lanjut.

Munculnya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang didirikan tahun 1976, menurut Kisman, menyebabkan kompetensi Lapan di bidang teknologi penerbangan dibekukan. Sebaliknya, desain dan rancang bangun pesawat terbang ditangani BPPT yang bekerja sama erat dengan IPTN dalam pembuatan prototipe dan fabrikasi.

Rencana melakukan kembali riset teknologi penerbangan, lanjut Adi, merupakan reaksi dari pertanyaan kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terlontarkan sejak 10 tahun lalu. Hal ini juga menjawab respons positif Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.

Pusat teknologi

Terkait dengan rencana merintis riset teknologi penerbangan, Lapan akan melakukan reorganisasi, yaitu mengubah Pusat Teknologi Terapan menjadi Pusat Teknologi Penerbangan yang antara lain akan terdiri dari tiga bidang, yaitu bidang konstruksi, propulsi, dan sistem kendali.

Dilihat dari sisi sumber daya manusia, Lapan telah memiliki tenaga lulusan sarjana teknik penerbangan dalam jumlah yang memadai. ”Tahun ini Lapan akan merekrut tenaga peneliti sebanyak 26 orang, di antaranya sarjana lulusan teknologi penerbangan,” ungkapnya.

Selain itu, tidak tertutup kemungkinan Lapan melakukan outsourcing dalam mendukung proyek riset teknologi penerbangan, yang akan dilaksanakan.

Namun, rencana merintis penelitian dan pengembangan teknologi penerbangan tersebut, ungkap Adi, saat ini masih dalam tahap pembahasan di tingkat internal Lapan. Setelah itu akan dibicarakan dengan Menteri Negara Riset dan Teknologi, serta lembaga pemerintah nondepartemen riset teknologi dan industri terkait.

Kerja sama dengan lembaga dan industri terkait, menurut Adi, penting karena kegiatan tersebut memerlukan pemanfaatan sumber daya manusia dan fasilitas laboratorium yang dimiliki lembaga riset lainnya serta perguruan tinggi. Selain itu, hasil desain pesawat terbang akan dibuat prototipenya oleh industri pesawat terbang nasional.

Adi mengambil contoh BPPT memiliki Laboratorium Uji Konstruksi dan Laboratorium Aeronatika Gas dan Getaran, yang dapat dimanfaatkan Lapan untuk uji prototipe pesawat rancangannya.

Menanggapi rencana Lapan tersebut, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, Lapan hendaknya fokus pada peroketan dan penginderaan jauh saja.

”Dengan dana riset yang terbatas tak mungkin Lapan melakukan banyak hal. Penerbangan itu sudah banyak dilakukan BPPT,” ucap Kusmayanto.

Sementara itu, di bidang peroketan dan satelit, Lapan telah mencapai kemajuan pesat dengan berhasil membuat roket hingga RX-420 atau berdiameter 420 milimeter yang akan diuji statik November mendatang dan uji terbang awal 2009. Selain itu, satelit mikro yang akan diluncurkan pada 2010 dengan roket India di orbit khatulistiwa.

Sumber : Kompas Cetak

Mantan Karyawan PT. DI, Membuat Pesawat UAV

Ada kebanggaan yang menyeruak dari batin ketika membaca bahwa mantan karyawan yang disia-siakn PT. DI, ternyata mampu membuktikan kualitas dirinya, dengan membuat pesawat UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Pesawat tersebut mampu terbang tanpa pilot (autopilot), dan mempunyai banyak kegunaan misalnya untuk mengintai, membuat peta, foto udara dan sebagainya.

Pemerintah sudah seharusnya bersegera untuk mendukung pengembangan usaha pembuatan pesawat UAV tersebut dengan memberi modal, mempromosikan dan membelinya misalnya sebagai pesawat intai untuk kepentingan pertahanan dan keamanan.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini artikel dari Kompas :

Pabrik Pesawat di Arcamanik

Jumat, 1 Februari 2008 | 08:37 WIB

Pepih Nugraha

Apa yang Anda bayangkan jika sebuah industri rumahan (home industry) tidak lagi sekadar membuat suku cadang sepeda motor atau mobil, ttapi juga membuat pesawat terbang? Bukan hanya mengerjakan satu komponen, ttapi seluruh pesawat terbang secara utuh!

Ini bukan fantasi, ttapi nyata. Pabrik pesawat itu ada di Indonesia, tepatnya di Jalan Aeromodelling 4, Arcamanik, Bandung Timur. Ia berada di halaman sebuah rumah penduduk. Mungkin Gubernur Jawa Barat atau Bupati Bandung tidak pernah tahu keberadaan pabrik pesawat rumahan ini.

“Kalau mereka tahu, tentu ada sedikit perhatian,” kata Jaka Prahasta, Kepala Produksi PT Globalindo Technology Services Indonesia (GTSI), saat kami temui di pabrik pesawat, pertengahan Desember 2007.

Pesawat ini memang bukan pesawat terbang biasa yang bisa mengangkut penumpang, ttapi industri rumahan pembuat pesawat tanpa pemandu yang disebut Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Dibilang pesawat mini juga tidak, sebab UAV ini punya bentangan sayap 3 meter, panjang badan 2,6 meter, dan berat 20 kilogram, termasuk kamera di dalamnya. Terbuat dari bahan fiberglass yang dicetak di pabrik itu, UAV dapat terbang pada ketinggian 1.000 meter selama 2 sampai 3 jam dengan kecepatan maksimal 150 kilometer per jam.

Berbeda dengan pesawat remote control manual, UAV yang bertenaga listrik 12 volt dapat terbang mandiri berkat navigasi GPS yang sudah ditanam di tubuhnya. Pengendali jarak jauh dua tongkat dengan enam saluran hanya digunakan saat pesawat take off dan landing. Selebihnya, ia terbang mandiri mencari titik-titik koordinat yang sudah ditentukan sebelum ia terbang dengan menggunakan peta gratisan Google Earth.

Aplikasi UAV tidak berhenti pada pemantauan kebakaran hutan, pencarian korban kecelakaan, pengamatan lalu lintas maritim, pencarian kandungan mineral bawah tanah, atau pengawasan titik semburan lumpur Lapindo, misalnya, ttapi bisa dikembangkan untuk keperluan pesawat mata-mata.

Di rumah penduduk yang sebagian halamannya dijadikan pabrik, diproduksi pula belasan tipe pesawat terbang aeromodelling untuk olahraga dan hobi, mulai pesawat helikopter sampai pesawat tempur, yang dikerjakan oleh 12 teknisi lulusan STM. Harga per pesawat Rp 15 juta hingga Rp 25 juta. Namun, bisnis inti yang serius digarap adalah UAV.

Saat Kompas berkunjung ke industri rumahan pesawat terbang itu, satu UAV pesanan sebuah lembaga riset Malaysia sudah selesai dibuat. Tanggal 24 Desember 2007, UAV yang kemudian diberi nama Kujang ini berhasil menjalani tes terbang di Lanud Sulaeman, Bandung. Kujang yang merupakan senjata khas Sunda-mengudara selama 30 menit, berhasil menelusuri rute yang ditentukan tanpa kendali radio, sampai mendarat selamat.

Kembangkan logika

Siapa otak di balik lahirnya UAV yang berteknologi tinggi made in Arcamanik ini? Dialah Endri Rachman, pelarian PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang sejak delapan tahun lalu hijrah ke Malaysia untuk mengembangkan keahliannya sebagai pensyarah alias dosen.

Kompas masih mencatat ucapan pria lulusan S-2 Technical University of Brunswick, Jerman, spesialis model autopilot ini saat ditemui satu tahun lalu. “Saya ingin memproduksi UAV dengan logika autopilot di Indonesia, tepatnya di Bandung,” katanya (Kompas, 29/12/2006). Rupanya ia membuktikan ucapannya itu!

Tidak nasionalis? “Terserah orang mau bilang apa. Saya ini warga Negara Indonesia. Kalau saya tidak nasionalis, saya pasti tidak akan membangun pabrik pesawat ini di Arcamanik, ttapi di Malaysia. Adanya pabrik pesawat ini justru agar Malaysia tidak mengklaim UAV yang saya kembangkan sebagai miliknya,” kata Endri saat ditemui di kantor pengembangan peranti UAV di sebuah ruko di Jalan Cihampelas, Bandung.

Untuk mewujudkan niatnya, Endri bersama rekan-rekan alumni IPTN mendirikan PT GTSI dengan modal awal yang menurut dia tidak sampai Rp 300 juta. Di lantai dua ruko bekerja teknisi pesawat terbang yang rata-rata jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan IPTN. Ada Asep Permana, jebolan Jerman dan IPTN di pengembangan bisnis. Ada Widyawardana, jebolan Teknik Elektro ITB di pengembangan system avionic UAV. Juga ada Muhajirin, manajer drawing yang mendesain rekayasa bentuk UAV. Endri sendiri bertindak selaku direktur utama.

Mengapa dengan modal yang tidak bisa dibilang besar Endri dan kawan-kawan berani melakukan langkah besar dengan mendirikan pabrik UAV di Indonesia? Jawabannya adalah “nama besar”, yakni nama besar Endri sebagai inovator pesawat yang laku dijual di Malaysia. Orang Malaysia yang memesan UAV pertamanya pun berani memberi panjar 70 persen dari harga UAV.

Widyawardana mengakui, mesin masih didatangkan dari Amerika Serikat. Namun ke depan, katanya, PT GTSI sudah siap merancang mesin untuk UAV. Yang dikerjakan para teknisi di lantai dua ruko itu hanya rancang bangun dan pengembangan peranti lunak dan peranti keras yang akan ditanamkan di UAV.

“Yang kami kembangkan adalah logika. Dengan demikian, kalau bicara software bukan hanya untuk UAV saja. Umumnya bisa diterapkan pada benda bergerak lainnya, seperti kapal selam tanpa awak atau bahkan peluru kendali yang tidak bisa terjangkau pandangan mata,” katanya.

Kumpulan “teknopreneur”

Asep dan kawan-kawan di PT GTSI punya cita-cita besar, yakni menghimpun kembali para alumnus IPTN yang kini banyak berserakan di medan usaha di luar pesawat terbang sekadar, yang disebutnya “teknopreneur” . Sudah bukan rahasia umum, selepas IPTN goyah seiring selesainya BJ Habibie mengabdi di pemerintahan, para teknisi andal IPTN banyak terserak (diaspora) di beberapa tempat. Sebagian besar lari ke luar negeri, seperti halnya Endri ke Malaysia. Ada pula yang bertahan di dalam negeri. Asep menyebut beberapa nama, antara lain Husin, ahli helikopter andal, yang kini menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Juga ada Lian Darmakusumah, mahasiswa terbaik lulusan aeronotika Perancis, yang kini berwirausaha.

Untuk mewujudkan langkah itu, PT GTSI mengakuisisi sebuah bengkel

yang sebelumnya hanya mengerjakan pesawat aeromodelling. Pesawat kendali untuk hobi ini ttap dipertahankan. Pilihan mengembangkan UAV tidaklah keliru. Endri mengaku sudah menerima pesanan baru, juga dari Malaysia, untuk mengerjakan Kujang 2.

Perusahaan ini pun siap membuka cabang di Malaysia, sekadar mendekatkan diri kepada konsumen. Negara lain yang berpotensi sebagai pemesan adalah negara-negara Arab, seperti Uni Emirat Arab, yang sudah menyatakan minatnya memesan UAV.

“Pesanan boleh datang dari mana pun, ttapi pabrik UAV ttap harus ada di sini, di Arcamanik ini,” kata Endri.